Selasa, 29 Agustus 2017

HAKIKAT AGAMA: PENGERTIAN AGAMA, KLASIFIKASI AGAMA DAN ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN



HAKIKAT AGAMA

A.                PENGERTIAN AGAMA
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Beberapa persamaan arti kata“agama’’ dalam berbagai bahasa:
1. Ad din (Bahasa Arab dan Semit)
2. Religion (Inggris)
3. La religion (Perancis)
4. De religie (Belanda)
5. Die religion (Jerman)
                          
Secara bahasa kata agama berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun. Adapun kata din mengandung arti menguasai, menundukkan, kepatuhan, balasan, dan kebiasaan. Din juga berarti peraturan-peraturan berupa hukum-hukum yang harus dipatuhi baik dalam bentuk perintah yang wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan.

Kata din dalam Al Qur’an disebut sebanyak 94 kali dalam berbagai makna dan kontek,
 antara lain berarti :
1.  Pembalasan (Q.S Al Fatihah (1) ayat 4).
2.  Undang-undang duniawi atau peraturan yang dibuat oleh raja (Q.S Yusuf (12)ayat 76)
3.  Agama yang datang dari Allah SWT (Q.S AliImran (3) ayat 83)
4.  Agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai agama yang benar (Q.S At-Taubah (9) ayat 33)
5.   Agama selain Islam (Q.S Al Kafirun(109) ayat 6 dan Q.S Ash Shaf (61) ayat 9)
                
Menurut Abu Ahmadi agama menurut bahasa :
  1. Agama berasal dari bahasa Sangsekerta yang diartikan dengan haluan,peraturan, jalan atau  kebaktian kepada Tuhan.
  2.  Agama itu terdiri dari dua perkataan yaitu A berarti tidak, Gama berarti kacau balau, tidak teratur. Jadi agama berarti tidak kacau balau yang berarti teratur.

Agama menurut istilah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengikat manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Maka orang yang beragama adalah orang yang teratur, orang yang tenteram dan orang yang damai baik dengan dirinya maupun dengan orang lain dari segala aspek kehidupannya.

Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu :
  • Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam.
  • Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.
  • Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinan nya tersebut.

B.                 UNSUR – UNSUR AGAMA

Setiap agama pada dasarnya terdiri dari empat unsur, yaitu:
1.      Ajaran = teori = konsep yaitu sebagai sisi gaib
Maksudnya adalah adanya keyakinan kepada yang gaib. Manusia merasa dirinya lemah dan oleh karenanya ia berhajat pada kekuatan gaib sebagai tempat memohon pertolongan. Manusia merasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib dengan cara mematuhi perintah dan larangannya.

2.       Iman yaitu sebagai interaksi antara pelaku dan konsep
Maksudnya adalah adanya keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia dan kebahagiaanya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud. Tanpa adanya hubungan baik itu, manusia akan sengsara hidupnya di dunia dan di akhirat.

3.      Ritus = upacara yaitu sebagai sistem lambing
Maksudnya adalah adanya respon yang bersifat emosional dari manusia, baik dalam bentuk perasaan takut atau perasaan cinta. Selanjutnya respon itu mengambil bentuk pemujaan atau penyembahan dan tata cara hidup tertentu bagi masyarakat yang bersangkutan.

4.      Praktik = amal
yaitu sebagai perwujudan konsep dalam segala segi kehidupan individu dan masyarakat
Maksudnya adalah adanya paham / keyakinan tentang yang kudus (the sacret) dan suci seperti kitab suci, tempat-tempat ibadah yang suci dan sebagainya.
 



C.                 KLASIFIKASI AGAMA

Dari segi sumbernya
  1. Agama Samawi (wahyu)
Yaitu agama yang diturunkan oleh Allah swt melalui wahyu – Nya kepada para rasul dan disebarkan kepada umat manusia. Ciri-cirinya adalah:
  • Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat, melainkan    diturunkan kepada masyarakat.
  • Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya
  • Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia
  • Ajarannya serba tetap, walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia
  • Konsep ketuhanannya monotheisme mutlak (tauhid)
  • Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia, masa dan keadaan.
               
  1. Agama Ardhi (bukan wahyu / agama budaya)
Yaitu agama yang lahir dari hasil pemikiran manusia semata yang dianggap memiliki pengetahuan tentang kehidupan dalam berbagai aspeknya secara mendalam.Contoh : Agama Budha yang berpangkal pada ajaran Sidharta Gautama dan Counfisianisme yang berpangkal pada ajaran Kong Hu Cu.Ciri – cirinya :
  • Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.
  • Tidak disampaikan oleh utusan Tuhan ( Rasul).
  • Umumnya tidak memiliki kitab suci, walaupun ada akan mengalami perubahan-perubahan dalam perjalanan sejarahnya.
  • Ajarannya dapat berubah-ubah, sesuai dengan perubahan akal pikiranmasyarakatnya ( penganutnya).
  • Konsep ketuhanannya : dinamisme, animisme, politheisme, dan paling tinggi adalah monotheisme nisbi.
  • Kebenaran ajarannya tidak universal , yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia, masa, dan   keadaan.

    Perbedaan kedua agama ini dikemukakan Al Masdoosi dalam Living Religious of the World sebagai berikut:
  • Agama wahyu berpokok pada konsep keesaan Tuhan, sedangkan agama budaya tidak demikian
  • Agama wahyu beriman kepada Nabi, sedangkan agama budaya tidak
  • Agama wahyu sumber utamanya adalah kitab suci yang diwahyukan, sedangkan agama budaya kitab suci tidak pentin
  • Semua agama wahyu lahir di Timur Tengah, sedangkan agama budaya lahir di luar itu
  • Agama wahyu lahir di daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh ras simetik
  • Agama wahyu memberikan arah yang jelas dan lengkap baik spiritual maupun material, sedangkan agama budaya lebih menitik beratkan aspek spiritual saja
  • Ajaran agama wahyu jelas dan tegas, sedangkan agama budaya kabur dan elastis.

Agama wahyu disebut juga agama samawi (agama langit) dan agama bukan wahyu disebut agama budaya (ardhi/bumi). Sedangkan yang termasuk dalam katagori agama samawi hanyalah Agama Islam.
          Secara fitrah, manusia membutuhkan agama sebagia pengangan hidup, karena itu sejarah agama sama panjangnya dengan sejarah manusia. Sejarah mencatat aneka macam agama yang dianut oleh manusia sejak dahulu sampai hari ini, agama yang berasal dari olah pikir manusia (agama ardhi atau agama budaya), maupun agama yang diturunkan melalui wahyu (agama samawi) yang diterima rasul-rasul Allah.
          Agama budaya bersifat politeistik atua mempercayai beberapa Tuhan, sedangkan agama wahyu  bersifat monoteistik  atau menyakini satu Tuhan. Agama-agama budaya menggunakan nama pencetusnya sebagai nama agamanya, sedangkan agama wahyu  penamaannya berdasarkan wahyu pula,tidak menggunakan nama rasul yang menerimanya.
          Agama islam adalah agama wahyu satu-satunya yang memiliki kitabsuci yang asli dan otentik,tidak  mengalami perubahan sejak diturukannya pada abad ke-6 Masehi sampai sekarang, bahkan sampai akhir zaman. Rasul yang menerima wahyu Allah bernama Muhammad putra Abdullah, memiliki silsilah dan keturunan yang jelas. Beliau dilahirkan di Mekkah tahun 571 Masehi dan mendapat wahyu yang pertama kali ketika beliau berusia  40 tahun.

Islam diturunkan kepada manusia berfungsi sebagai rahmad namun nilairahmat tersebut akan berpengaruh kepada manusian yang melaksanaakan ajaran agamanya secara totalitas sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqrah ayat 208 yang artinya:Hai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam Islam seluruhnya, dan jaganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Tulisan ini adalah nasehat yang ditujukan kepada saya dan sebagian orang yang sering membawa perkataan “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya menjadi pengecut, tidak berani mengatakan itu salah dan ini benar sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum..
Memang Islam agama yang memerintahkan kasih sayang, sikap lembut, santun, tidak menyusahkan, tidak membuat orang lari akibat syariatnya .
Berkata Al ‘Allamah Syeikh Al Mufassir Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah (w: 1393H):
وَمَا ذَكَرَهُ – جَلَّ وَعَلَا – فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ مِنْ أَنَّهُ مَا أَرْسَلَهُ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالِمِينَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ جَاءَ بِالرَّحْمَةِ لِلْخَلْقِ فِيمَا تَضَمَّنَهُ هَذَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ . وَهَذَا الْمَعْنَى جَاءَ مُوَضَّحًا فِي مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى : أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [29 \ 51] وَقَوْلِهِ : وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ الْآيَةَ [28 \ 86] .
Artinya: “Apa yang telah disebutkan Allah Jalla wa ‘Ala di dalam ayat yang mulia ini adalah bahwa Allah Ta’ala tidaklah mengutus beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam-pent) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta, yang menunjukkan bahwa beliau datang dengan rahmat untuk seluruh makhluk sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al Quran yang Mulia ini.
Dan makna ini telah disebutkan di beberapa tempat dari Kitabullah, seperti firman Allah Ta’ala:
 أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [العنكبوت: 51]
Artinya: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka.Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. QS. Al Ankabut: 51.Dan Firman-Nya:
وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ [القصص: 86]
Artinya: “Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir”. QS. Al Qashash: 86.
Dan di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah pernah ditanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah engaku mendoakan keburukan untuk orang-orang musyrik?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
«إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً» .
Artinya: “Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat”.
Lihat Tafsir Adhwa Al Bayan.Bahkan bersikap lembut sampai kepada Fir’aun sang pengaku tuhan. Coba perhatikan Firman Allah Ta’ala ketika mengutus Nabi Musa dan Harun ‘alaihissalam kepada Fir’aun:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)} [طه: 43، 44]
Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. QS. Thaha: 43-44.
Dan, memang salah satu sifat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang beriman bersamanya adalah saling menyayangi diantara mereka:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ [الفتح: 29]
Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. QS. Al Fath:29.
Dan, memang pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita adalah agar bersikap lembut penuh kasih sayang, santun.“Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai yang lembut, memberi dalam sikap lembut suatu yang tidak diberikan dalam sikap keras dan tidak memberi atas apa yang selain sikap lembut”. HR. Muslim.
Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ جَرِيرٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ.
Artinya: ““Barangsiapa yang diharamkan dari sikap lembut maka niscaya diharamkan kebaikan (baginya)”. HR. Muslim.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا » . البخاري
Artinya: “: “Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan dibuat lari”. HR. Bukhari.

Islam agama yang mengajarkan selalu dan wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana yang sudah ditentukan caranya oleh Islam.Islam juga agama yang mewajibkan untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Jangan dibalik! Apalagi disebabkan karena posisi di masyarakat, tekanan sosial, takut dijauhi, takut ditinggal jama’ah, takut dimarahi, takut menyalahi arus, atau takut dibenci manusia atau semisal dengan alasan-alasan ini.
Contoh: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dimintai sesuatu oleh shahabatnya, yang nota benenya, mereka adalah orang yang sangat butuh untuk disikapi lembut, agar hati mereka teguh di dalam Islam. Tapi karena yang mereka minta adalah perkara yang merupakan sarana kesyirikan, maka beliaupun shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan sikap yang tegas dan keras dihadapan mereka.
Abu Waqid Al Laitsy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pergi ke daerah Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik kaum musyrik, yang disebut pohon Dzatu Anwath, mereka (kaum musyrik) menggantungkan senjata mereka di atasnya, maka para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik mereka (kaum musyrik)”. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Maha Suci Allah, ucapan ini adalah sebagaimana perkataan kaumnya Musa (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) (yang artinya: Wahai Musa! Jadikanlah untuk kami sebuah sembahan sebagaiman mereka memiliki sembahan), demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang sebelum kalian”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.
Contoh lain: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, meskipun beliau berlemah lembut ketika memanggil bapaknya, tetap saja beliau mencegah kemungkaran yang dilakukan bapak beliau:
يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45)} [مريم: 43 - 45]
Artinya: “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”. “Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”. “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. QS. Maryam: 43-45.
Lihat bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap memanggil dengan panggilan yang lembut tapi tetap juga AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.
Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah:
1)             Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.
2)             Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya menyembunyikan kebenaran.
3)             Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya tidak berani mengatakan ini salah, ini kesyirikan, ini bid’ah, ini maksiat dan tidak boleh dikerjakan.
Aisyah radhiyallah ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemarahan manusia maka Allah kan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya, dan siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani. Abu Ali Ad Daqqaq rahimahullah (w: 516H) berkata: “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu, sedang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”. Lihat kitab I’lam Al Muwaqqi’in dan Al Jawab Al Kafi, karya Ibnul Qayyim.

Agama – agama besar yang dianut umat manusia di dunia antara lain agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, dan Islam. Agama Yahudi, Nasrani dan Islam dikelompokkan oleh para ahli ke dalam kelompok agama samawi dan para ahli lainnya mengelompokkan agama Yahudi dan Nasrani tidak lagi dipandang agama samawi karena mereka berpendapat bahwa kitab suci kedua agama tersebut telah mengalami perubahan.

Dari segi sifatnya
1)       Agama Misionari
Yaitu agama yang menurut ajarannya harus disebarkan kepada seluruh umat manusia.
2)       Agama Non Misionari
Yaitu tidak ada kewajiban dalam ajarannya untuk menyebarkan kepada seluruh umat.

Dari segi tempat munculnya
1). Agama Semitik
 Yaitu agama yang lahir dalam kawasan Timur Tengah yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam
2). Agama Non Semitik
    
 Yaitu agama-agama yang lahir diluar kawasan Timur Tengah seperti Hindu, Budha,

D.                HAKIKAT AGAMA ISLAM

Menurut istilah, Islam berarti ketundukkan dan kepatuhan kepada peraturan-peraturan Allah yang disampaikan melalui Nabi Muhammad Saw untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya.

Agama Islam adalah satu – stunya agama wahyu yang memiliki kitab suci yang asli dan autentik, tidak mengalami perubahan sejak diturunkannya pada abad ke -6 Masehi sampai sekarang bahkan sampai akhir zaman. Ajaran Islam berlaku universal untuk segala tempat dan bangsa serta berlaku abadi. Sebagaimana firman Allah swt. Dalam Q.S Al-Anbiyaa’ (21):107

لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً إِلَّا أَرْسَلْنَاكَوَمَا

artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Menurut bahasa, Islam berasal dari kata salama yang atinya damai atau selamat. Dalam Al-Qur’an kata tersebut digunakan dengan beberapa perubahan dan tambahan.

a.       Islam dengan kata salm yang berarti damai (Q.S  Muhammad : 35, Q.S Al-Anfaal : 61)
b.      Islam dengan kata aslama yang berarti menyerah (Q.S Ali-Imran : 83, Q.S An-Nisaa’ : 125
c.       Islam dengan kata istaslama-taslim mustaslimun yang berarti penyerahan total kepada     Allah (Q.S An-Nisaa’ : 65 ) 
d.      Islam dengan kata saliim yang berarti bersih atau suci (Q.S Asy-Syu’ara’:89, Q.S Ash- Shaffaat : 84)
e.       Islam dengan kata salaam yang berarti kesejahteraan(Q.S Az-Zumar : 73)         

E.                 ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN 

Kata “islam” berasal dari bahasa arab yaitu “sailama” yang dimasdarkan menjadi “islaman” yang berarti damai. Kata ‘rahmatan” berasal dari bahasa Arab yaitu “rohima” yang dimasdarkan menjadi “ rahmatan’ yang artinya kasih sayang. Dan kata “Al-alamin” berasal dari  bahasa Arab yaitu “alam” yang dijama’kan menjadi “alamin” yang artinya alam semesta yang mencakup bumi beserta isinya. Maka yang dimaksud dengan Islam Rahmatan Lil’alamin adalah islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.

Agama Islam diturunkan untuk menata kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Bagi seorang muslim, Islam menjadi dasar dalam social budaya yang tercermin dalam perilaku sehari-hari umatnya. Oleh karena itu Allah swt memerintahkan umatnya agar menyesuaikan hidupnya dengan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh). Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Al-Baqarah : 208

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Islam dalam arti damai, selamat, dan sejahtera itu mengisyaratkan suatu makna bahwa seorang muslim selain mencari keselamatan untuk dirinya juga mampu memberikan keselamatan kepada orang lain, sedangkan Islam dalam arti kepatuhan dan ketundukkan kepada ajaran yang diturunkan Allah swt juga merupakan inti dari agama yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Semua nabi menuntun umatnya ke jalan yang lurus agar terciptanya keselamatan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.  Hal ini tercermin dalam do’a Nabi Ibrahim As dan beberapa ayat dalam Al-Qur’an di antaranya Q.S Al-Baqarah : 128

وَتُبْ مَنَاسِكَنَا وَأَرِنَا لَكَ مُسْلِمَةً أُمَّةً ذُرِّيَّتِنَا وَمِنْ لَكَ  مُسْلِمَيْنِ وَاجْعَلْنَا رَبَّنَا

الرَّحِيمُ التَّوَّابُ أَنْتَ ۖ إِنَّكَ عَلَيْنَا

artinya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Pengertian kepatuhan dan kedamaian adalah mentaati aturan-aturan secaa menyeluruh maksudnya keselamatan dan kedamaian ini merupakan buah dari kepatuhan dan ketundukkan dalam malaksanakan ajaran-ajaran Allah swt. Ajaran Islam dalam bentuk rahmatan lil’alamin terwujud dalam bentuk nilai dan norma yang harus dimiliki oleh seorang muslim dalam pergaulan dengan sesama manusia dan lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammadong. 2009. Pendiddikan Agama Islam. Makasar : Tim Dosen Pendidikan Agama Islam UNM.

Abdullah, Abd. Malik. 2009.  Pendiddikan Agama Islam. Makasar : Tim Dosen Pendidikan Agama Islam UNM.

Fuady, Anwar. 2005. Pendiddikan Agama Islam. Padang : Angkasa Raya.


Senin, 28 Agustus 2017

hakikat manusia dalam pandangan islam



HAKIKAT MANUSIA


A.        HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM 

hakikat berarti kebenaran atau seesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini

Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar, insan dan al-nas.

·         Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi : innama anaa basyarun mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum : 20), manusia makan dan minum (al-mu’minuum : 33).
·         Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq : 5), yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
·         Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 walakad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.

Dengan demikian Al-Quran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau makhluk lain. Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohanian.

Sebenarnya maniusia itu terdiri dari 3 unsur yaitu :

·         Jasmani: Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah.
·         Ruh: Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.
·         Jiwa (an nafsun/rasa dan perasaan).





 Proses Penciptaan Manusia

Asal usul manusia dalam pandangan Islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah di muka bumi dengan segala karakter kemanusiaannya. Dalam Al-Qur’an di jelaskan tentang proses penciptaan manusia, antara lain dalam Q.S 23:12,13 dan 14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ.
Artinya:
(12)Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (13)Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).(14).  Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Ayat tersebut menjelaskan tentang asal pencipta manusia dari “sulatin minthin (sari pati tanah)”. Kata sulatin dapat diartikan dengan hasil akhir dari sesuatu yang di sarikan, sedangkan thin berarti tanah. Pada tahap berikutnya sari pati tanah berproses manjadi nuthfah (air mani).
Pada ayat 14 di jelaskan tentang tahapan reproduksi manusia setelah nuthfah, perubahan nuthfah secara berturut menjadi alaqah, mudhghah, izham dan khalqan akhar (makhluk lain). Alaqah memiliki dua pengertian, pertama darah yang mengental sebagai kelanjutan dari nuthfah oleh ke dua sesuatu yang menempel di dinding rahim. Mudhghah berarti sebuah daging yang merupakan proses penciptaan manusia sebagai kelanjutan alaqah. Izham (tulang-belulang) selanjutnya di balut dengan lahm (daging). Pada fase ini sampai pada pencapaian kesempurnaan bentuk manusia yang disebut dengan khalqon akhar, berarti ciptaan baru yang jauh berbeda dengan keadaan dan bentuk sebelumnya.

Selanjutnya Al-Qur’an juga mengatakan dalam beberapa ayatnya bahwa manusia berasal dari air ( Q.S al-furqan 25: 54).

ؕ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيۡرًا‏ وَهُوَ الَّذِىۡ خَلَقَ مِنَ الۡمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَهٗ نَسَبًا وَّ صِهۡرًا​
Artinya:
54.  Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.
Dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa air (yang menjadi asal manusia) itu adalah air hina (mani ) yang terpancar dari (antara) tulang sulbi (pinggang) dan tulang dada (Q.S af-tariq 86:6-7)
(7)يَّخۡرُجُ مِنۡۢ بَيۡنِ الصُّلۡبِ وَالتَّرَآٮِٕبِؕ‏ ‏ (6)خُلِقَ مِنۡ مَّآءٍ دَافِقٍۙ

Artinya:
6.Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,
7. yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.

Di dalam Al-Qur’an juga di kenal beberapa istilah lain yang mengungkapkan tentang asal kejadian manusia antara lain sebagai berikut :
1.      Turaab, yaitu tanah gemuk sebagaimana disebutkan dalam surat al khalfi (18) :37.
2.      Tiin yaitu tanah lempung sebagaimana firman Allah dalam surat as sajada (32) :7.
3.      Tiinul laazib yaitu tanah lempung yang pekat sebagaimana di sebut dalam surat Asb-shaffaat (37) :11.
4.      Shalshalun, yaitu lempeng yang dikatakan kalfakhar (seperti tembikar).
5.      Shalshalin min hamain masnuun  ( lempeng dari lumpur yang di cetak/diberi bentuk)       sebagaimana dalam surat Al-hijr (15) :26.
6.       Sulalatun mintiin, yaitu dari sari pati lempung, sulalat berarti sesuatu yang di sarikan dari  sesuatu yang lain.

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk allah yang paling sempurna disbanding makhluk lainnya. Manusia mempunyai berbagai kelebihan,yaitu:
1.            Makhuk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
2.            Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin di kembangkan ) beriman kepada Allah.
3.            Manusia di ciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.Manusia di ciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di bumi.
4.            Di samping akal, manusia di lengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak.
5.            Secara individual manusia bertanggug jawab atas segala perbuatannya.
6.            Berakhlak.

B.        EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA
Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT
Manusia di dunia tidak hidup sendirian. Manusia merupakan makhluk sosial yang mempunyai sifat hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain. Hampir semua manusia, pada awalnya merupkan bagian dari anggota kelompok sosial yang dinamakan keluarga. dalam Ilmu komunukasi dan sosiologi kelurga merupakan bagian dari klasifikasi kelompak sosial dan termasuk dalam small group atau kelompok terkecil di karnakan paling sedikit anggotanya terdiri dari dua orang. Namun keberadaan keluraga penting karena merupakan bentuk khusus dalm kerangka sistem sosial secara keseluruhan. Small group seolah-olah merupakan miniatur masyarakat yang juga memiliki pembagian kerja, kodo etik pemerintahan, prestige, ideologi dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan tujuan individu daln keluarga adalah agar individu tersebut menemukan ketentraman, kebahagian dan membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.
Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Oleh sebab utu, sudah wajar manusia baik laki-laki dan perempuan membentuk keluarga. Tujuan manusia berkelurga menurut Q.S. Al-Ruum ayat 21 yang artinya:
"Dan  diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang . Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaaum yang mau berfikir."
·                   Keunggulan dan potensi manusia
Potensi diri adalah kekuatan dari individu yang masih terpendam di dalam, yang dapat di wujudkan menjadi suatu kekuatan nyata dalam kehidupan manusia. Apabila pengrtian potensi diri dikaitkan dengan penciptaan manusias oleh Allah SWT, maka potensi diri manusia adalah: kekutan manusia yang di berikan oleh Alah SWT sejak dalm kandungan ibunya sampai akhir hayatnya yang masih terpendam dalam dirinya , menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan diri manusia di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah SWT untuk mengabdi kepadanya.
Potensi diri manusia terdiri dari potensi fisik  yaitu tubuh manusia sebagai sebuah sistem yang paling sempurna bila dibandingkan dengan makhlik Allah lainnya seperti: binatang, jin, malaikat. Sedangkan potensi non fisik adalah hati, ruh, indera dan akal pikiran. Potensi apapun yang dimiliki manusia masing-masing memiliki fungsi dan perannya, oleh karenanya harus dimanfaatkan dngan sebaik-baiknya agar dapat berguna bagi diri dan lingkungannya.
Secara umum manisia yang dilahirkan normal kedunia ini telah dilengkapi dengan otak. Para ahli Psikologi sepakat bahwa otak manusia adalah sumber kekuatan yang luar biasa. Tugas otak selain mengendalikan aktifitas fisik bagian bagian didalam tubuh seperti ; paru-paru , jantung dan sebagainya. Juga berfungsi sebagai untuk menghafal. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan logika seperti : berhitunh, menganalisa, bahasa. Aktivitas imajinasi, intuisi kreativitas, inovasi dan sebagainya. Tugas otak melahirkan kegiatan berfikir yang pada gilirannya dapat menghasilkan karya nyata. Jadi otak adalah sumber kekuatan manusia untuk menghasilkan karya melalui proses berfikir. 


C.        TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA DAN KHALIFAH ALLAH     SWT
1.         Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah SWT

Makna yang esensial dari kata abd’ (hamba) adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah SWT yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan.
Oleh karena itu, dalam al-quran dinyatakan dengan “quu anfusakun waahlikun naran” (jagalah dirimu dan keluargamu dengan iman dari api neraka).

2.         Tanggung Jawab Manusia sebagai Khalifah Allah SWT

Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat dan harus dipertanggungjawabkan dihadapannya. Tugas hidup yang di muka bumi ini adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah untuk mewujud kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan manusia bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidpnya.sebagaimana firman allah dalam qs. 2 : 30

    فِكُ الدِّمَاءَ وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْ
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Artinya:“Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya aku hendak menjadikanmu sebagai khalifah di muka bumi”, mereka berkata : “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?”. Allah berfirman : “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika nanti harus kita pertanggungjawabkan. Karena itu siapa pun anda, di mana pun anda berada, anda adalah seorang pemimpin, minimal memimpin diri sendiri. Kepemimpinan adalah mengenai diri sendiri. Kepemimpinan adalah perilaku kita sehari-hari. Kepemimpinan berkaitan dengan hal-hal sederhana seperti berbakti kepada orang tua, tidak berbohong, mengunjungi kawan yang sakit, bersilahturahmi dengan tetangga, mendengar keluh kesah sahabat, dan sebagainya.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan suatu hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman taatlah Allah dan RasulNya, dan orang-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalilah kepada Al-Qur’an dan Hadits. Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya bagimu”.
Di dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 tersebut dijelaskan kriteria pemerintahan (kepemimpinan) yang baik, yaitu :
1.      Pemerintah yang pemimpinnya menyampaikan amanat kepada yang berhak dan berlaku adil.
2.      Musyawarah pada setiap persoalan dan apabila terjadi perselisihan maka hendaklah kembali kepada sumber hukum Islam.
3.      Pemerintahan yang memiliki sifat kooperatif antara rakyat dan pemerintah, rakyat harus patuh dan taat pada peraturan yang dibuat oleh pemerintah dalam hal ini baik dan benar dan pemerintah harus benar-benar menjalankan pemerintahan untuk kepentingan rakyat.
Setiap orang sebenarnya pemimpin. Setiap orang dapt mengatur dirinya sendiri. Sayangnya, banyak yang tidak sadar akan kemampuannya tersebut. Maka untuk menjadi sadar ada tiga hal yang perlu dilakukan agar kita semua sadar akan kemampuan kita sebagai pemimpin, yaitu :
a.      Memahami diri sendiri (Self Understanding)
Proses ini kita harus memahami dan mengenal diri kita. Untuk menjadi pemimpin kita harus sadar siapakah kita sebenarnya. Nabi Muhammad SAW bersabda."Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya" 
Tanpa mengenali diri kita dengan benar ,maka sulit untuk menemukan makna kehidupan hidup adalah sebuah perjalanan melingkar, kita harus tahu siapa kita dan bagaimana kita seharusnya?
b.      Kesadaran diri (Self Awareness)
Kesadran diri berarti sadar akan perasaan kita . Untuk menjadi pemompim kita harus melek emosi dan kita harus mampu mengenali dan mengindentifikasi-kan perasaan apapun yang sedang kita rasakan.

c.       Pengendaalian diri (self Control)
Pengendalian diri berarti sadar sepenuhnya akan apa yang akak kita lakukan Ini adalh hasil dari kecerdasan emosi yang tinggi. Pengendalian diri baru dapat terlihat ketika situsi yang sulit dan melibatkan emosi, sebagai pemimpin kita harus bisa mengendalikannya. Pemimpin yang mampu mengendalikan diri tidak akan tergoda untuk melakukan  dan memgambil sesuatu yang bukan haknya. Pengendalian duru juga ditunjukkan oleh keberanian seseorang untuk membuat komotmen dan melaksanakan komitmen tersebut
Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Di Era Moderen
Allah SWT dengan kehendak kebijaksanaan-Nya telah menciptakan makhluk-makhluk yang ditempatkan di alam penciptaan-Nya. Sebagai khalifah tanggung jawab manusia adalah sangat luas didalam kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang ditentukan kepadanya.
Di zaman serba modern ini tanggung jawab manusia khususnya sebagai khalifah hampir semua orang meninggalkannya. Manusia melupakan tugas dan tanggung jawab dari aslinya dengan membengkokon kearah-arah yang negatif.
Manusia dalam melakukan kerja kebudayaan memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan diantara berbagai macam kemungkinan. Tetapi kebebasan itu tidak bebes begitu saja,dalam artian bebas dalam batas tertentu terhadap hak orang lain. Kondisi ini digambarkan pada masa lalu,terdapat rebutan lahan diantara dua penguasa. Mereka mempermasalahkan batas wilayah yang tidak henti-hentinya. Thomas Hobbes menyebutnya sebagai homo homini lopus, artinya manusia adalah serigala bagi manusai yang lain. Persoalan rebutan wilayah itu mungkin kalau sekarang seperti persoalan antara Israel dan Palestina yang selalu bermusuhan karena berebutan wilayah.
Hal tersebut dapat terjadi karena tanggung jawa manusia sebagai khalifah/pemimpin telah musnah. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi, tidak peduli lagi akan tanggung jawab sebagai seorang khalifah, tidak peduli akan kebenaran kebaikan, mewujudkan kedamaian, menghapus kemungkaran serta penyelewengan dan penyimpangan dari jalan Allah.
Pemanfaatan tekhnologi sekarangpun telah banyak membelok dari fungsi aslinya, yakni dari fungsi aslinya tekhnologi itu dipergunakan untuk memecahkan masalah yang lahir dalam kehidupan,sebagai sarana atau aktifitas yang denganya manusia berusaha mengubah atau menangani lingkungan,sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan praktis yang bersifat positif. Sebagai sarana untuk mempermudah manusia melakukan tugasnya,misalnya:
  1. Dengan tekhnologi modern, dari tekhnik mengendalikan aliran air sungai petani mendapatkan kemudahan dalam memperoleh air. Bendungan dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik. Alat rumah tangga elektronik mempermudah ibu-ibu rumah tangga dalam melaksanakan tugasnya.
  2. Dengan tekhnik modern dapat dibuat bermacam-macam media pendidikan, seperti, slide, film setrip, TV dan lain-lain yang dapat mempermudah para pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Pengetahuan dan tekhnologi memungkinkan terjadinya perkembangan ketrampilan dan kecerdasan manusia. Hal ini karena dangan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi memungkinkan:
a.       Tersedianya sarana dan prasarana penunjang kegiatan ilmiah.
  1. Meningkatnya kemakmuran materi dan kesehatan masyarakat.
Fungsi hakekat tekhnologi tersebut telah banyak yang pensiun, meski banyak pula yang berjalan sesuai mestinya. Tekhnologi yang pensiun atau berubah dari hakekat fungsinya, misalnya adalah pembuatan nuklir, meledaknya bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 8 Agustus 1945 mengakhiri perang dunia ll. Akibat bom atom korban manusia sipil yang cacat seumur hidup dan hangus menjadi abu dalam sekejap lingkungan alam hancur. Sampai saat ini jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki selalu diperingati sebagai peringatan akan bahaya tekhnologi atom bagi umat manusia. Itulah akibat dari melalaikan tanggung jawab manusia.
























A.    KESIMPULAN 
Asal usul manusia dalam pandangan islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah di muka bumi dengan segala karakter kemanusiaannya.
Ruh adalah salah satu komponen penting yang menentukan ciri kemanusiaan manusia. Ruh merupakan getaran ilahiyah atau sinyal ketuhanan sebagai mana rahmat , nikmat dan hikmah yang kesemuanya sering terasa sentuhannya, tetapi sukar di pahami hakekatnya Fungsi dan tujuan hidup manusia menurut islam
Fungsi manusia
a.       Fungsi manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah. Khalifah berarti pemimpin Tujuan hidup manusia
b.      Tujuan hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah Swt. Tujuan hidup manusia
Tujuan hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah Swt.
c.       Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan atau Allah.
Tuhan sebagai pencipta disebut khalik dan selain dari Tuhan di namakan makhluk
B.     SARAN
Diharapkan pihak yang bersangkutan dalam ilmu agama pada usia sd dapat memberikan informasi mengenai hal tersebut agar tidak terjadi penyimpangan terhadap ilmu agama.










DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata.1998. AL-Qur’an dan Hadits (Dirasah Islamiyah), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Departemen Agama RI.2001. Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum, Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.

Hamdan Mansoer, dkk.2004. Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam.

Murthada Muthahhari.1990. Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Bandung: Mizan.

Nanih Machendrawaty & Agus Ahmad Safei.2004. Pengembangan Masyarakat Islam, Jakarta: Rineka Cipta.

energi

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkatnya yang telah ia berikan k...